Posts

Review: SWALLOWING SHIT

Image
Swallowing Shit - "Let My Struggling Spirit In Itself Be Free" 💥(7"inch, Spiral Objective Records 1999) GRINDCORE MAYHEM yang bisa membawa pendengarnya merasa bahwa Charles Bronson bermain musik terlalu lambat, dengan lirik penuh kemarahan dengan porsi tinggi dan tentu saja pesan yang sangat politis, Swallowing Shit memuntahkan lirik seruan turun kejalan untuk menghancurkan outlet-outlet korporasi multinasional sampai ke masalah Homophobia dan Animal Rights, mereka juga disetiap konsernya selalu aktif memberi informasi tentang bahaya radiasi dari dampak  pengerukan besar-besaran dan penelitian uranium yg dilakukan oleh pemerintah/militer di Australia dan menyerukan pemboikotan-nya.  Swallowing Shit bubar di tahun 1997 dan salah satu personilnya bergabung dengan band Melodic-Punk (WTF...Melodic) bernama Propagandhi, dan memang keterlaluan brengseknya kalau band bagus selalu berumur pendek, apalagi Swallowing Shit hanya band proyekan yang sekedar iseng dari kejenuhan para...

PAUL BURNLEY: Neo-Nazi, No Remorse hingga Lord Of The Rings

Image
 "PAUL BURNLEY: LORD OF THE RINGS DAN NO REMORSE" Mungkin disini nama Paul Burnley (Paul Belany) beserta bandnya "NO REMORSE" kurang Familiar. Pernah nonton film Lord of The Rings??? Orang yang ada di balik Visual Effects dan Composer film tersebut adalah Paul Burnley salah satu mantan mentor dari band berpengaruh yang bermuatan politis sayap kanan di Inggris "NO REMORSE". Setelah membuat buku "Nazi Rock Star" yg membahas biography sang vokalis dari Skrewdriver, "Ian Stuart Donaldson" dengan memakai nama samaran "Paul London", Paul pun memutuskan untuk meninggalkan komunitas yang telah membesarkan namanya setelah di tinggalkan mati oleh ayah nya di tahun 2013 (ayah Paul adalah salah satu pelukis ternama, John Belanny). Paul memang tidak seterkenal Ian Stuart, tetapi Paul Burnley lah otak intelektual dibalik gerakan ormas sayap-kanan yg ada di Inggris era awal pergerakan WP skinhead. Kini Paul Burnley menjadi orang yg cukup suk...

Kontribusi Kaset Bajakan Bagi Penikmat Musik Underground Era 90'an: Sebuah catatan personal dari remaja tanggung dalam pencarian jati diri.

Image
Ini sebenarnya lebih ke tulisan personal bagaimana saya dulu mengenal Aldi vokalis band punk rock dari Bandung, KEPARAT dan Aan sebagai pioner penggerak scene Oi! dan juga vokalis salah satu band Oi! yang lumayan cukup tua dari Bandung, HAIRCUTS. Tulisan ini hanya sedikit mengenang perkenalan saya dengan band - band punk yang lebih Real ? , karena dulu yang saya konsumsi sebatas musik punk semacam Green Day, Offspring dan band - band yang di ijinkan untuk dirilis di Indonesia, itu pun banternya the Sex Pistols, dulu mungkin negara ini sok-sok'an mengadopsi peraturan PMRC (Parents Music Resource Center) layaknya di negara lain, mungkin karena band punk dari Amerika dan Inggris angkatan 80an lebih extreme dalam menyuarakan pesan yang disampaikan dalam lirik-liriknya, yang mungkin dulu akan dianggap mengganggu stabilitas negara kita ketika musik tersebut diadopsi para pemuda di Indonesia. Padahal kalau merekam jejak lebih dalam, punk (mungkin) masuk ke Indonesia di akhir '70an ke...

REVIEW "It's All In Your Head" dari Thought Crime

Image
Jarang nih dari kecamatan Brooklyn, New York ada band kaya beginian, biasanya Hardcore preman, buat yang suka musik model Aus-Rotten mungkin Thought Crime jadi solusi buat bernostalgia dengan musik model Aus-Rotten (tapi ups....Thought Crime juga sudah bubar). Thought Crime cuman mengeluarkan satu album dan dirilis oleh Profane Existance dan Tribal War Records. Thought Crime menawarkan tema lirik yang sangat politis dari mulai menentang kekerasan perang dan invasi Amerika ke negara-negara arab (peace punk?),  kebohongan dan stigma Amerika tentang tuduhan ke beberapa negara timur tengah adalah negara teroris (penyimpulan informasi dan penafsiran pesan yg dibuat oleh divisi bagian lirik), gaya hidup konsumerisme yang sudah melekat di Amerika, dunia sekolah dan kerja yang tidak berbeda dan sama - sama membosankan, kebrutalan polisi dan tentu saja seruan untuk turun kejalan disaat protest (direct action), semua mereka sampaikan dengan to-the-poit.

PERKENALAN HARD ROCK MENUJU PUNK ROCK

Image
S aya teringat ketika di pertengahan 90an musik-musik Glamrock/Hairmetal banyak merajai pasar industri musik di dunia dan digemari remaja-remaja pencari identitas jati diri di belahan dunia, salah satunya di Indonesia. Masih teringat di kuping saya ketika tetangga saya selalu memutar lagu-lagu Guns N' Roses di pagi hari, begitu pula dengan paman saya yang juga selalu memutar album dari Motley Crue, sadar maupun tidak sa dar maupun tidak sadar saya mulai terpengaruh dengan musik-musik yg selalu terdengar tiap waktu tanpa sengaja berniat mendengarkanya, karena mereka memutar dengan volume layaknya hari esok kiamat dan otomatis masuk juga melalui gendang telinga saya. Dari persentuhan itulah saya memulai sesuatu yang baru, saya mulai menyukai musik yang selalu tetangga dan paman saya putar, dari mulai mengumpulkan rilisan musik rock album "Keep the Faith" nya Bon Jovi, "Slave to the Grind" nya Skidrow, "For Unlawful Carnal Knowledge" miliknya Van Halen ...

STROKE MEMBAKAR STANDAR MUSIK TRADISIONAL GRINDCORE LEWAT "EMOTIONAL HUMANOID"

Image
Tengah malam lebih tepatnya pagi buta saya masih belum beres membersihkan beberapa CD koleksian saya dari debu, karena beberapa minggu kebelakang jarang sekali memutar lagu di player butut buatan China yg harganya hampir sama dengan satu pack rokok merk angker. Dari sekian tumpukan Cd Audio yang saya bersihkan, saya menemukan album "Emontional Humanoid" dari STROKE band grindcore asal Bandung. Dari pertama dulu saya mendapatkan album tersebut, tidak lebih dari satu kali saya memutarnya karena kesibukan dengan rutinitas kerja saya yang mulai padat, pagi buta semalam saya di kasih kesempatan oleh sang maha " waktu " untuk mendengarkan album tersebut, saya tidak terlalu peduli dengan tetangga saya yang kebisingan, karena hasrat rasa penasaran saya begitu besar egonya untuk mendengarkan band tersebut. Di mulai dengan Intro yang saya pikir soundnya lebih mirip band hardcore new school era 90an dengan di akhiri beat drum yg kencang gaya Mick harris. Saya pikir album ini...