Tengah malam lebih tepatnya pagi buta saya masih belum beres membersihkan beberapa CD koleksian saya dari debu, karena beberapa minggu kebelakang jarang sekali memutar lagu di player butut buatan China yg harganya hampir sama dengan satu pack rokok merk angker. Dari sekian tumpukan Cd Audio yang saya bersihkan, saya menemukan album "Emontional Humanoid" dari STROKE band grindcore asal Bandung. Dari pertama dulu saya mendapatkan album tersebut, tidak lebih dari satu kali saya memutarnya karena kesibukan dengan rutinitas kerja saya yang mulai padat, pagi buta semalam saya di kasih kesempatan oleh sang maha "waktu" untuk mendengarkan album tersebut, saya tidak terlalu peduli dengan tetangga saya yang kebisingan, karena hasrat rasa penasaran saya begitu besar egonya untuk mendengarkan band tersebut.

Di mulai dengan Intro yang saya pikir soundnya lebih mirip band hardcore new school era 90an dengan di akhiri beat drum yg kencang gaya Mick harris. Saya pikir album ini cukup layak dengar dan wajib dalam list koleksi album Harsh Grindcore kalian, album ini cukup nyeleneh dari sound band-band grindcore pada umumnya, musik mereka cepat dan agresif dan part-part yang enak di tengah lagu layaknya lagu band - band hardcore youth crew, sang vokalis yang murtad dengan gaya teriakannya karena membakar standar band-band grindcore yang identik dengan Growl atau Scream-nya, tetapi bagi saya ini sebuah nilai yang bagus karena pendengar dapat dengan jelas apa pesan yang disampaikan oleh sang vokalis. Untuk lirik sendiri cukup standar band - band grindcore pada umumnya, tema ketimpangan sosial dan tentu saja nihilisme, untuk di lagu "Tai Banteng" saya kurang tau apa maksud yang mereka sampaikan karena liriknya hanya beberapa kata saja, mungkin bagian divisi pembuat lirik kekurangan ide saat membuat lirik untuk lagu tersebut, yang saya suka dari semua lirik di album ini adalah "Terror Belantara", sudah sangat jarang sekali (mungkin) sebuah band yang mengangkat tema kritik kebijakan pemerintah tentang pentingnya sebuah hutan untuk kehidupan masyarakat adat dan tentu saja untuk mengurangi polusi dan ini diluar standar lirik kegrindcorean yang selalu mengangkat tema-tema perang nuklir, doomsday dan gore - gore-an, saya tidak tahu sang pembuat lirik terpikirkan untuk menulis terkait pentingnya menjaga kelestariana alam (mengingatkan band-band New York ketika mempertahankan hutan kota Central Park, Swallowing Shit yang selalu memberikan edukasi dampak buruk pertambangan uranium di setiap pertunjukannya, atau beberapa tahun yang lalu para penggiat seni dan masyarakat di Bandung berusaha mempertahankan hutan kota Babakan Siliwangi ketika akan di eksploitasi oleh para pemerintah setempat dengan di sponsori para investor untuk dijadikan lahan profit) apakah sang penulis mendapatkan wangsit hasil bertapa di gunung "Kemukus" ataukah inpirasi dari sebuah film "The Burning Season", hanya sang illahi dan si pembuat lirik yang tau ?.
Point paling penting adalah ada credits tulisan yang memaparkan semua penjelasan semua lirik apa yang di sampaikan oleh si band di albumnya yang sudah sangat jarang di lakukan oleh band lokal maupun luar semenjak album Homicide, Keparat, Hark! It's A Crawling Tar-Tar, Seein' Red, Aus-Rotten, Swallowing Shit hingga Kill the Man Who Question?, untuk layout dari kemasan CD tersebut secara pribadi saya sangat menyukainya, dengan tema hitam putih apalagi dengan artwork-nya yang sangat-sangat klasik mengingatkan artwork Bolt thrower era "In Batlle there is no Law" atau "Ripper Crust"nya milik Hellbastard. Disaster Records sangat tepat untuk merilis album grindcore generasi baru ini, album Emotional Humanoid ini sangat patut untuk di perhitungkan, karena mereka berani berinovasi membuat musik grindcore dengan sound yang variatif melewati batas musik grindcore pada umumnya dan yang terpenting album ini layak dengar, cari rilisan albumnya karena ini wajib dalam deretan koleksi CD kalian.
Comments
Post a Comment